NBRS Corp — Tak terasa kita sebentar lagi akan menyambut momen penuh makna, Hari Raya Idul Adha. Hari yang tak hanya identik dengan takbir dan ibadah haji, tapi juga qurban yang mengandung hikmah mendalam.
Secara bahasa, qurban berasal dari kata qaraba yang berarti dekat. Dalam istilah, qurban adalah upaya kita untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan menyingkirkan segala penghalang. Penghalang itu bukanlah tembok fisik, melainkan ‘berhala’ tak kasat mata dalam diri kita, seperti ego yang berlebihan, cinta harta, jabatan, atau nafsu yang melampaui batas ketaatan.
Idul Adha mengajarkan kita dua pilar utama, hablumminallah, yaitu hubungan suci kita dengan Allah SWT, di mana hakikat yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan, bukan sekadar daging hewannya, dan habluminannas, yakni hubungan sosial dengan sesama, menumbuhkan empati dan rasa syukur.
Kisah Nabi Ibrahim A.S dan putranya, Nabi Ismail A.S, adalah inti dari perayaan Idul Adha. Bunda & Kakak pasti ingat, bagaimana Allah SWT menguji kecintaan Nabi Ibrahim A.S pada Nabi Ismail A.S, putra yang sangat dinantikannya, dengan perintah untuk meng-qurban-kan sang buah hati.
Di sinilah letak makna qurban yang sesungguhnya, kesediaan mengorbankan hal yang paling kita cintai demi menjalankan perintah Allah SWT. Nabi Ismail A.S adalah ‘Ismail’ bagi ayahnya. Lalu, siapakah ‘Ismail-Ismail’ yang membuat kita terlena di era modern ini, Bunda dan Kakak?
‘Ismail-Ismail’ modern yang harus kita qurban-kan bisa berwujud:
Idul Adha mengajak kita untuk menyembelih ‘Ismail-Ismail’ yang membutakan hati ini, agar kita kembali fokus pada tujuan hakiki: takwa dan kemaslahatan umat. Hal ini menyajikan aplikasi ajaran kuno ke dalam konteks kehidupan kekinian.
Pelajaran terbesar dari Idul Adha dan kisah Nabi Ibrahim A.S adalah tentang pengorbanan dan ketaatan yang ikhlas.
Kita mungkin tidak diperintahkan menyembelih buah hati kita, tetapi kita selalu diminta mengorbankan waktu, tenaga, dan sebagian harta kita demi kebaikan yang lebih besar.
Qurban menuntut sikap kesediaan berkorban dalam konteks sosial yang lebih luas. Kapan pun dan di mana pun kita berada, kita diajak untuk rela memberikan pengorbanan yang tulus demi kemaslahatan umat. Ini adalah kesempatan emas untuk mengajarkan pada anak-anak kita bahwa nilai seorang muslim tidak hanya diukur dari apa yang ia miliki, tetapi dari apa yang ia rela lepaskan.
Mari jadikan Hari Raya Idul Adha ini sebagai momentum untuk membersihkan hati dari segala ‘Ismail’ yang menghalangi, dan menguatkan kembali tekad untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan sesama.
Baca Juga:
Penulis: Anatashia Nuraini S.