NBRS Corp — Di tengah kesibukan mencari nafkah dan menunaikan kewajiban duniawi, kita semua pastinya ingin rezekinya diberikan kelancaran dan keberkahan, bukan? Ternyata, ada amalan sunnah yang ringan dilakukan namun memiliki ganjaran yang besar yakni, Sholat Dhuha. Bayangkan, hanya butuh beberapa menit di pagi hari, tapi bisa menjadi pintu pembuka rezeki sekaligus menenangkan jiwa. Luar biasa, ya?
Sholat Dhuha bukan sekadar ibadah sunnah, tapi juga investasi akhirat yang sangat nyata, sebuah bentuk syukur dan permohonan kita kepada Sang Pemberi Rezeki. Yuk, kita bahas lebih dalam mengapa amalan ini istimewa dan bagaimana niat dan tata caranya!
Sholat Dhuha adalah sholat sunnah yang dikerjakan di waktu dhuha, yaitu saat matahari mulai naik (kira-kira 20 menit setelah matahari terbit) hingga sebelum waktu dzuhur tiba. Jumlah rakaatnya minimal 2, dan bisa dilaksanakan hingga 12 rakaat.
Rasulullah SAW sendiri mewasiatkan agar shalat Dhuha menjadi amalan harian yang tidak ditinggalkan.
Dalam hadits dari Abu Hurairah RA, beliau berkata: “Kekasihku mewasiatkan tiga hal yang tidak akan kutinggalkan hingga aku meninggal dunia: berpuasa tiga hari setiap bulan, shalat Dhuha, dan tidur dalam keadaan sudah melaksanakan shalat Witir.” (HR. Al Bukhari)
Sholat Dhuha memiliki banyak sekali keutamaan, baik dalam urusan duniawi maupun ukhrawi. Berikut beberapa keutamaannya berdasarkan pada hadits Rasulullah SAW:
Setiap pagi, seluruh persendian tubuh manusia memiliki tanggungan sedekah. Rasulullah SAW bersabda:
“Pada pagi hari diwajibkan bagi setiap persendian kalian untuk bersedekah. Setiap bacaan tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, dan setiap takbir adalah sedekah. Menyeru kepada kebaikan juga sedekah, mencegah kemungkaran pun termasuk sedekah. Semua itu bisa digantikan dengan dua rakaat sholat Dhuha.” (HR. Muslim no. 1704)
Menurut Imam Ibnu Daqiq Al-‘Ied, dua rakaat ini mencakup seluruh bentuk aktivitas tubuh karena dalam sholat setiap anggota tubuh turut berperan.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Daud, dan At-Tirmidzi, Rasulullah SAW menyampaikan sabda Allah SWT:
“Wahai anak Adam, jangan engkau lemah untuk menunaikan empat rakaat di awal siang (yakni waktu Dhuha), niscaya Aku akan mencukupimu hingga akhir harimu.”
Hadits ini menegaskan bahwa sholat Dhuha bukan hanya ibadah sunnah yang bisa dilakukan di pagi hari, tetapi juga menjadi sebab kecukupan hidup sepanjang hari, baik dalam rezeki, ketenangan, maupun keberkahan.
Suatu hari Rasulullah SAW mendengar para sahabat membicarakan keutamaan ghanimah, lalu beliau bersabda:
“Barangsiapa berwudhu kemudian pergi pada waktu pagi ke masjid untuk melaksanakan sholat Dhuha, maka itu adalah seperti peperangan yang paling dekat, memperoleh ghanimah yang paling banyak, dan kembali dengan cepat.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad; hasan shahih).
Sholat Dhuha tidak hanya mendatangkan keberkahan dan kecukupan, tetapi juga diibaratkan seperti mendapatkan kemenangan dan kekayaan yang besar, layaknya harta rampasan perang yang melimpah dan cepat diraih.
Sholat Dhuha yang dikerjakan secara rutin dan penuh keikhlasan memiliki keutamaan besar, yaitu menjadi sebab diampuninya dosa-dosa oleh Allah SWT, bahkan jika dosa itu sebanyak buih di lautan. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
“Barangsiapa yang senantiasa menjaga shalat Dhuha, maka akan diampuni dosanya oleh Allah, sekalipun sebanyak buih di lautan.” (HR. Tirmidzi)
Rasulullah SAW bersabda bahwa shalat Dhuha adalah salah satu dari tiga amalan yang beliau wasiatkan kepada Abu Hurairah RA untuk tidak pernah ditinggalkan.
Dalam sabdanya, beliau menyebut bahwa shalat Dhuha adalah “shalat awwabin”, shalatnya orang-orang yang taat (HR. Ibnu Khuzaimah; shahih). Sehingga, membiasakan diri mengerjakan shalat Dhuha secara konsisten berarti menempatkan diri dalam barisan hamba-hamba Allah SWT yang selalu kembali dan taat kepada-Nya.
Nabi Muhammad SAW dalam hadits riwayat Tirmidzi dan Ibnu Majah bersabda mengenai keutamaan shalat Dhuha 12 rakaat.
“Barang siapa shalat Dhuha 12 rakaat, Allah akan membuatkan untuknya istana di surga.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Barangsiapa mengerjakan shalat Subuh berjama’ah di masjid, lalu dia tetap berdiam di masjid sampai melaksanakan shalat sunnah Dhuha, maka ia seperti mendapat pahala orang yang berhaji atau berumrah secara sempurna.” (HR. Thabrani)
Segala amal dimulai dari niat. Sebelum mengucap takbir, ucapkanlah niat ini dalam hati dengan penuh kesadaran:
أُصَلِّي سُنَّةَ الضُّحَى رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى
Ushollii sunnatadh dhuhaa rok’ataini lillaahi ta’aalaa.
Artinya: “Aku niat sholat sunnah dhuha dua rakaat karena Allah Ta’ala.”
Jika mengerjakan lebih dari dua rakaat (misalnya 4 rakaat), ganti kata “rok’ataini” (dua rakaat) dengan “arba’a raka’atin” (empat rakaat), dan seterusnya.
Sholat Dhuha dikerjakan seperti sholat sunnah pada umumnya, setiap dua rakaat diakhiri dengan salam. Berikut langkah-langkahnya:
اَللّٰهُمَّ إِنَّ الضُّحَاءَ ضُحَاءُكَ، وَالْبَهَاءَ بَهَاءُكَ، وَالْجَمَالَ جَمَالُكَ، وَالْقُوَّةَ قُوَّتُكَ، وَالْقُدْرَةَ قُدْرَتُكَ، وَالْعِصْمَةَ عِصْمَتُكَ. اَللّٰهُمَّ إِنْ كَانَ رِزْقِي فِي السَّمَاءِ فَأَنْزِلْهُ، وَإِنْ كَانَ فِي الْأَرْضِ فَأَخْرِجْهُ، وَإِنْ كَانَ مُعَسَّرًا فَيَسِّرْهُ، وَإِنْ كَانَ حَرَامًا فَطَهِّرْهُ، وَإِنْ كَانَ بَعِيْدًا فَقَرِّبْهُ، بِحَقِّ ضُحَائِكَ وَبَهَائِكَ وَجَمَالِكَ وَقُوَّتِكَ وَقُدْرَتِكَ، آتِنِي مَا آتَيْتَ عِبَادَكَ الصَّالِحِيْنَ
Allahumma innad dhuhaa’a dhuhaa’uka, wal bahaa’a bahaa’uka, wal jamaala jamaaluka, wal quwwata quwwatuka, wal qudrata qudratuka, wal ‘ismata ‘ismatuka. Allahumma in kaana rizqii fis samma’i fa anzilhu, wa in kaana fil ardhi fa akhrijhu, wa in kaana mu’assaran fa yassirhu, wa in kaana haraaman fa thahhirhu, wa in kaana ba’iidan fa qarribhu, bihaqqi dhuhaa’ika wa bahaa’ika wa jamaalika wa quwwatika wa qudratika, aatini maa ataita ‘ibaadakas shaalihiin.
Artinya: “Ya Allah, sungguh waktu dhuha adalah waktu dhuha-Mu... berilah aku apa yang Engkau berikan kepada hamba-hamba-Mu yang shalih.”
Waktu sholat Dhuha dapat mulai dilaksanakan ketika matahari telah naik setinggi tombak (kira-kira 20 menit setelah matahari terbit) hingga menjelang waktu dzuhur. Namun, waktu utama atau afdhal-nya adalah sekitar pukul 8 pagi hingga 10 pagi.
Sholat Dhuha adalah bukti kasih sayang Allah SWT. Amalan yang ringan, waktunya fleksibel, tetapi manfaatnya sungguh luar biasa besar. Tak hanya menjadi wasilah memohon kelancaran rezeki yang halal dan berkah, tapi juga menjadi sarana mendekatkan diri, mensyukuri nikmat, membersihkan dosa, dan menenangkan hati.
Jika artikel ini bermanfaat, bagikan kebaikannya kepada saudara atau temanmu. Untuk artikel-artikel inspiratif lainnya, jangan lupa untuk mengunjungi website NBRS Corp. Semoga rezeki kita semua senantiasa dilapangkan dan diberkahi!